Minggu, 22 Mei 2011

Akhlak Tasawwuf


Akhlak Pada Diri Sendiri
Paling tidak, seorang muslim adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Siapapun dia, seorang muslim tentu akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah diperbuat terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itulah, Islam memandang bahwa setiap muslim harus menunaikan etika dan akhlak yang baik terhadap dirinya sendiri, sebelum ia berakhlak yang baik terhadap orang lain. Dan ternyata hal ini sering dilalaikan oleh kebanyakan kaum muslimin.
            Secara garis besar, akhlak seorang muslim terhadap dirinya dibagi menjadi tiga bagian; terhadap fisiknya, terhadap akalnya, dan terhadap hatinya. Karena memang setiap insan memiliki tiga komponen tersebut, dan kita dituntut untuk memberikan hak kita terhadap diri kita sendiri dalam ketiga unsur yang terdapat dalam dirinya tersebut:

Evaluasi Pembelajaran

EVALUASI
A. Tes Koreksi
Bahwa kriteria tes yang baik adalah apabila tes yang disusun memiliki karakteristik tes yang baik, yaitu valid ( validitas isi, konstruk, maupun face validity ), reliable, dan praktis. Dengan memperhatikan karakteristik tersebut, maka tes yang disusun benar-benar mampu mengukur yang seharusnya diukur. Permasalahannya adalah seringkali tes yang disusun itu kurang memperhatikan unsur validitas dan reliabilitasnya. Implikasinya, sering dijumpai bahwa tes yang disusun terlalu sulit atau terlalu mudah, atau bahkan tes yang disusun tidak mencerminkan kemampuan yang seharusnya diukur.
Untuk menghasilkan suatu tes yang valid dan reliable, maka pembuat tes atau guru dapat menempuh langkah-langkah sebagai berikut.

IBNU TAIMIYAH


1.   Latar belakang Ibnu taimiyah
Taqqiyyuddin Ibnu Taimiyyah bin Abdilhalim,kelahiran Haran tahun 661 H,di sebuah kota kecil di Syiria (Irak). Beliau dibesarkan dalam lingkungan intelektual murni, yang mayoritas komunitas disekitar lingkungan tersebut menekuni bidang-bidang keilmuan, seperti fiqih dan juga ilmu-ilmu agama lainnya.
Ketika Ibnu Taimiyah berusia 21  tahun, menggantikan kedudukan Ayahnya sebagai guru dan khatib pada masjid-masjid sekaligus mengawali karirnya yang kontroversial dalam kehidupan masyarakat sebagai teolog yang aktif. Ibnu Taimiyah dikenal sebagai seorang pemikir, tajam intuisi, berpikir dan bersikap bebas, setia kepada kebenaran, lebih dari itu, penuh keberanian dan ketekunan. Ia memiliki semua persyaratan yang menghantarkannya kepada pribadi luar biasa.

IAD

Proses Perkembangan Pola Pikir Manusia
1. Rasa Ingin Tahu
Ilmu pengetahuan alam bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan suatu ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda di alam sekitarnya, bulan, bintang, dan matahari, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri (antroposentris).
Rasa ingin tahu manusia yang terus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia itu sendiri. Hal ini tidak bisa meliputi kebutuhan-kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari-hari, seperti bercocok tanam atau membuat panah atau membuat panah atau lembing untuk berburu, tetapi juga berkembang sampai pada hal-hal yang menyangkut keindahan.
2. Mitos
Mitos timbul disebabkan oleh keterbatasan alat indera manusia, antara lain : alat penglihatan, alat pendengaran, alat pencium, dan pengecap dan alat perasa.
Mitos dapat diterima oleh masyarakat karena keterbatasan pengetahuan yang disebabkan oleh keterbatasan penginderaan, baik langsung maupun dengan alat, keterbatasan penalaran manusia dan terpenuhnya hasrat ingin tahu.

Jumat, 20 Mei 2011

PSI


PENGERTIAN STUDI ISLAM DAN ARTI PENTING MEMPELAJARINYA


            Studi Islam secara etimologis merupakan terjemahan dari Bahasa Arab Dirasah Islamiyah. Sedangkan Studi Islam di barat dikenal dengan istilah Islamic Studies. Maka studi Islam secara harfiah adalah kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Makna ini sangat umum sehingga perlu ada spesifikasi pengertian terminologis tentang studi Islam dalam kajian yang sistematis dan terpadu. Dengan perkataan lain, Studi IAslam adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memhami serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya.
            Studi Islam diarahkan pada kajian keislaman yang mengarah pada tiga hal: 1) Islam yang bermuara pada ketundukan atau berserah diri, 2) Islam dapat dimaknai yang mengarah pada keselamatan dunia dan akhirat, sebab ajaran Islam pada hakikatnya membimbing manusia untuk  berbuat kebajikan dan menjauhi semua larangan, 3) Islam bermuara pada kedamaian.
           

pancasila

BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
            Isi Pembukaan UUD 1945 adalah nilai-nilai luhur yang universal sehingga Pancasila di dalamnya merupakan dasar yang kekal dan abadi bagi kehidupan bangsa. Gagasan vital yang menjadi isi Pancasila sebagai dasar negara merupakan jawaban kepribadian bangsa sehingga dalam kualitas awalnya Pancasila merupakan dasar negara, tetapi dalam perkembngannya menjadi ideologi bangsa.
Pancasila dijadikan ideologi dikerenakan, Pancasila memiliki nilai-nilai falsafah mendasar dan  rasional. Pancasila telah teruji kokoh dan kuat sebagai dasar dalam mengatur kehidupan bernegara. Selain itu, Pancasila juga merupakan wujud dari konsensus nasional.
Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan negara Indonesia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan hanya diciptakan oleh seseorang sebagaimana ayang terjadi pada ideologi-ideologi lain di dunia, namun terbentuknya pancasila melaului proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia
B.     RUMUSAN MASALAH
·  Bagaimana interpretasi ideologi Pancasila dan ideologi-ideologi lain di dunia?
·  Bagaimana perbandingan ideologi Pancasila dengan ideologi-ideologi lain di dunia?




pemikiran abu 'ala al maududi

PEMIKIRAN ABUL A’LA AL-MAUDUDI TENTANG POLITIK

A.      Prolog
Dalam khazanah teori politik Islam, Islam dan Negara, sangatlah menarik untuk diperbincangkan dalam ranah politik Islam. Banyak dari para pemikir Islam modern yang mencoba memberikan kajian mengenai Islam dan negara. Oleh sebab itu, dalam pembahasan kali ini penulis mencoba untuk mengkaji Islam dan negara berdasarkan salah satu tokoh dari para pemikir politik Islam kontemporer, yakni pemikiran politik Abul A’la Al-Maududi.
    1. Bagaimana Latar Belakang Riwayat Abul A’la Al-Maududi?
    2. Bagaimana Pokok-pokok Pemikiran Abu A’la Al-Maududi Tentang Kenegaraan?